Aku membencinya, itulah yang selalu
kubisikkan dalam hatiku hampir
sepanjang kebersamaan kami.
Meskipun menikahinya, aku tak
pernah benar-benar menyerahkan
hatiku padanya. Menikah karena
paksaan orangtua, membuatku
membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak
pernah menunjukkan sikap benciku.
Meskipun membencinya, setiap hari
aku melayaninya sebagaimana tugas
istri. Aku terpaksa melakukan
semuanya karena aku tak punya
pegangan lain. Beberapa kali muncul
keinginan meninggalkannya tapi aku
tak punya kemampuan finansial dan
dukungan siapapun. Kedua
orangtuaku sangat menyayangi
suamiku karena menurut mereka,
suamiku adalah sosok suami
sempurna untuk putri satu-satunya
mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri
yang teramat manja. Kulakukan
segala hal sesuka hatiku. Suamiku
juga memanjakanku sedemikian rupa.
Aku tak pernah benar-benar
menjalani tugasku sebagai seorang
istri. Aku selalu bergantung padanya
karena aku menganggap hal itu
sudah seharusnya setelah apa yang ia
lakukan padaku. Aku telah
menyerahkan hidupku padanya
sehingga tugasnyalah membuatku
bahagia dengan menuruti semua
keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak
ada seorangpun yang berani
melawan. Jika ada sedikit saja
masalah, aku selalu menyalahkan
suamiku. Aku tak suka handuknya
yang basah yang diletakkan di tempat
tidur, aku sebal melihat ia
meletakkan sendok sisa mengaduk
susu di atas meja dan meninggalkan
bekas lengket, aku benci ketika ia
memakai komputerku meskipun hanya
untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Aku marah kalau ia menggantung
bajunya di kapstock bajuku, aku juga
marah kalau ia memakai pasta gigi
tanpa memencetnya dengan rapi, aku
marah kalau ia menghubungiku
hingga berkali-kali ketika aku sedang
bersenang-senang dengan teman-
temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak
punya anak. Meskipun tidak bekerja,
tapi aku tak mau mengurus anak.
Awalnya dia mendukung dan akupun
ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia
menyembunyikan keinginannya begitu
dalam sampai suatu hari aku lupa
minum pil KB dan meskipun ia tahu
ia membiarkannya. Akupun hamil dan
baru menyadarinya setelah lebih dari
empat bulan, dokterpun menolak
menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar
padanya. Kemarahan semakin
bertambah ketika aku mengandung
sepasang anak kembar dan harus
mengalami kelahiran yang sulit. Aku
memaksanya melakukan tindakan
vasektomi agar aku tidak hamil lagi.
Dengan patuh ia melakukan semua
keinginanku karena aku mengancam
akan meninggalkannya bersama
kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak
terasa berulang tahun yang ke-
delapan. Seperti pagi-pagi
sebelumnya, aku bangun paling
akhir. Suami dan anak-anak sudah
menungguku di meja makan. Seperti
biasa, dialah yang menyediakan
sarapan pagi dan mengantar anak-
anak ke sekolah. Hari itu, ia
mengingatkan kalau hari itu ada
peringatan ulang tahun ibuku. Aku
hanya menjawab dengan anggukan
tanpa mempedulikan kata-katanya
yang mengingatkan peristiwa tahun
sebelumnya, saat itu aku memilih ke
mal dan tidak hadir di acara ibu.
Yaah, karena merasa terjebak dengan
perkawinanku, aku juga membenci
kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku
mencium pipiku saja dan diikuti
anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga
memelukku sehingga anak-anak
menggoda ayahnya dengan ribut. Aku
berusaha mengelak dan melepaskan
pelukannya. Meskipun akhirnya ikut
tersenyum bersama anak-anak. Ia
kembali mencium hingga beberapa
kali di depan pintu, seakan-akan
berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun
memutuskan untuk ke salon.
Menghabiskan waktu ke salon adalah
hobiku. Aku tiba di salon
langgananku beberapa jam kemudian.
Di salon aku bertemu salah satu
temanku sekaligus orang yang tidak
kusukai. Kami mengobrol dengan
asyik termasuk saling memamerkan
kegiatan kami. Tiba waktunya aku
harus membayar tagihan salon,
namun betapa terkejutnya aku ketika
menyadari bahwa dompetku
tertinggal di rumah. Meskipun
merogoh tasku hingga bagian
terdalam aku tak menemukannya di
dalam tas. Sambil berusaha
mengingat-ingat apa yang terjadi
hingga dompetku tak bisa kutemukan
aku menelepon suamiku dan
bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan
meminta uang jajan dan aku tak
punya uang kecil maka kuambil dari
dompetmu. Aku lupa menaruhnya
kembali ke tasmu, kalau tidak salah
aku letakkan di atas meja kerjaku.”
Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya
dengan kasar. Kututup telepon tanpa
menunggunya selesai bicara. Tak
lama kemudian, handphoneku
kembali berbunyi dan meski masih
kesal, akupun mengangkatnya dengan
setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku
akan ambil dompet dan
mengantarnya padamu. Sayang
sekarang ada dimana?” tanya suamiku
cepat , kuatir aku menutup telepon
kembali. Aku menyebut nama salonku
dan tanpa menunggu jawabannya
lagi, aku kembali menutup telepon.
Aku berbicara dengan kasir dan
mengatakan bahwa suamiku akan
datang membayarkan tagihanku. Si
empunya Salon yang sahabatku
sebenarnya sudah membolehkanku
pergi dan mengatakan aku bisa
membayarnya nanti kalau aku
kembali lagi. Tapi rasa malu karena
“musuh”ku juga ikut mendengarku
ketinggalan dompet membuatku
gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar
dan berharap mobil suamiku segera
sampai. Menit berlalu menjadi jam,
aku semakin tidak sabar sehingga
mulai menghubungi handphone
suamiku. Tak ada jawaban meskipun
sudah berkali-kali kutelepon. Padahal
biasanya hanya dua kali berdering
teleponku sudah diangkatnya. Aku
mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa
kali mencoba. Ketika suara
bentakanku belum lagi keluar,
terdengar suara asing menjawab
telepon suamiku. Aku terdiam
beberapa saat sebelum suara lelaki
asing itu memperkenalkan diri,
“selamat siang, ibu. Apakah ibu istri
dari bapak armandi?” kujawab
pertanyaan itu segera. Lelaki asing
itu ternyata seorang polisi, ia
memberitahu bahwa suamiku
mengalami kecelakaan dan saat ini ia
sedang dibawa ke rumah sakit
kepolisian. Saat itu aku hanya
terdiam dan hanya menjawab terima
kasih. Ketika telepon ditutup, aku
berjongkok dengan bingung.
Tanganku menggenggam erat
handphone yang kupegang dan
beberapa pegawai salon mendekatiku
dengan sigap bertanya ada apa
hingga wajahku menjadi pucat
seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku
sampai di rumah sakit. Entah
bagaimana juga tahu-tahu seluruh
keluarga hadir di sana menyusulku.
Aku yang hanya diam seribu bahasa
menunggu suamiku di depan ruang
gawat darurat. Aku tak tahu harus
melakukan apa karena selama ini
dialah yang melakukan segalanya
untukku. Ketika akhirnya setelah
menunggu beberapa jam, tepat ketika
kumandang adzan maghrib terdengar
seorang dokter keluar dan
menyampaikan berita itu. Suamiku
telah tiada. Ia pergi bukan karena
kecelakaan itu sendiri, serangan
stroke-lah yang menyebabkan
kematiannya. Selesai mendengar
kenyataan itu, aku malah sibuk
menguatkan kedua orangtuaku dan
orangtuanya yang shock. Sama sekali
tak ada airmata setetespun keluar di
kedua mataku. Aku sibuk
menenangkan ayah ibu dan
mertuaku. Anak-anak yang terpukul
memelukku dengan erat tetapi
kesedihan mereka sama sekali tak
mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan
aku duduk di hadapannya, aku
termangu menatap wajah itu.
Kusadari baru kali inilah aku benar-
benar menatap wajahnya yang
tampak tertidur pulas. Kudekati
wajahnya dan kupandangi dengan
seksama. Saat itulah dadaku menjadi
sesak teringat apa yang telah ia
berikan padaku selama sepuluh
tahun kebersamaan kami. Kusentuh
perlahan wajahnya yang telah dingin
dan kusadari inilah kali pertama kali
aku menyentuh wajahnya yang dulu
selalu dihiasi senyum hangat.
Airmata merebak dimataku,
mengaburkan pandanganku. Aku
terkesiap berusaha mengusap agar
airmata tak menghalangi tatapan
terakhirku padanya, aku ingin
mengingat semua bagian wajahnya
agar kenangan manis tentang
suamiku tak berakhir begitu saja.
Tapi bukannya berhenti, airmataku
semakin deras membanjiri kedua
pipiku. Peringatan dari imam mesjid
yang mengatur prosesi pemakaman
tidak mampu membuatku berhenti
menangis. Aku berusaha menahannya,
tapi dadaku sesak mengingat apa
yang telah kuperbuat padanya
terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah
memperhatikan kesehatannya. Aku
hampir tak pernah mengatur
makannya. Padahal ia selalu
mengatur apa yang kumakan. Ia
memperhatikan vitamin dan obat
yang harus kukonsumsi terutama
ketika mengandung dan setelah
melahirkan. Ia tak pernah absen
mengingatkanku makan teratur,
bahkan terkadang menyuapiku kalau
aku sedang malas makan. Aku tak
pernah tahu apa yang ia makan
karena aku tak pernah bertanya.
Bahkan aku tak tahu apa yang ia
sukai dan tidak disukai. Hampir
seluruh keluarga tahu bahwa suamiku
adalah penggemar mie instant dan
kopi kental. Dadaku sesak
mendengarnya, karena aku tahu ia
mungkin terpaksa makan mie instant
karena aku hampir tak pernah
memasak untuknya. Aku hanya
memasak untuk anak-anak dan diriku
sendiri. Aku tak perduli dia sudah
makan atau belum ketika pulang
kerja. Ia bisa makan masakanku
hanya kalau bersisa. Iapun pulang
larut malam setiap hari karena dari
kantor cukup jauh dari rumah. Aku
tak pernah mau menanggapi
permintaannya untuk pindah lebih
dekat ke kantornya karena tak mau
jauh-jauh dari tempat tinggal teman-
temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu
menahan diri lagi. Aku pingsan ketika
melihat tubuhnya hilang bersamaan
onggokan tanah yang menimbun. Aku
tak tahu apapun sampai terbangun
di tempat tidur besarku. Aku
terbangun dengan rasa sesal
memenuhi rongga dadaku. Keluarga
besarku membujukku dengan sia-sia
karena mereka tak pernah tahu
mengapa aku begitu terluka
kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah
kepergiannya bukanlah kebebasan
seperti yang selama ini kuinginkan
tetapi aku malah terjebak di dalam
keinginan untuk bersamanya. Di hari-
hari awal kepergiannya, aku duduk
termangu memandangi piring kosong.
Ayah, Ibu dan ibu mertuaku
membujukku makan. Tetapi yang
kuingat hanyalah saat suamiku
membujukku makan kalau aku sedang
mengambek dulu. Ketika aku lupa
membawa handuk saat mandi, aku
berteriak memanggilnya seperti biasa
dan ketika malah ibuku yang datang,
aku berjongkok menangis di dalam
kamar mandi berharap ia yang
datang. Kebiasaanku yang
meneleponnya setiap kali aku tidak
bisa melakukan sesuatu di rumah,
membuat teman kerjanya
kebingungan menjawab teleponku.
Setiap malam aku menunggunya di
kamar tidur dan berharap esok pagi
aku terbangun dengan sosoknya di
sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur
mendengar suara dengkurannya, tapi
sekarang aku bahkan sering
terbangun karena rindu
mendengarnya kembali. Dulu aku
kesal karena ia sering berantakan di
kamar tidur kami, tetapi kini aku
merasa kamar tidur kami terasa
kosong dan hampa. Dulu aku begitu
kesal jika ia melakukan pekerjaan dan
meninggalkannya di laptopku tanpa
me-log out, sekarang aku
memandangi komputer, mengusap
tuts-tutsnya berharap bekas jari-
jarinya masih tertinggal di sana. Dulu
aku paling tidak suka ia membuat
kopi tanpa alas piring di meja,
sekarang bekasnya yang tersisa di
sarapan pagi terakhirnyapun tidak
mau kuhapus. Remote televisi yang
biasa disembunyikannya, sekarang
dengan mudah kutemukan meski aku
berharap bisa mengganti
kehilangannya dengan kehilangan
remote. Semua kebodohan itu
kulakukan karena aku baru menyadari
bahwa dia mencintaiku dan aku
sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri,
aku marah karena semua kelihatan
normal meskipun ia sudah tidak ada.
Aku marah karena baju-bajunya
masih di sana meninggalkan baunya
yang membuatku rindu. Aku marah
karena tak bisa menghentikan semua
penyesalanku. Aku marah karena tak
ada lagi yang membujukku agar
tenang, tak ada lagi yang
mengingatkanku sholat meskipun kini
kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat
karena aku ingin meminta maaf,
meminta maaf pada Allah karena
menyia-nyiakan suami yang
dianugerahi padaku, meminta ampun
karena telah menjadi istri yang tidak
baik pada suami yang begitu
sempurna. Sholatlah yang mampu
menghapus dukaku sedikit demi
sedikit. Cinta Allah padaku
ditunjukkannya dengan begitu banyak
perhatian dari keluarga untukku dan
anak-anak. Teman-temanku yang
selama ini kubela-belain, hampir tak
pernah menunjukkan batang hidung
mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah
kematiannya, keluarga
mengingatkanku untuk bangkit dari
keterpurukan. Ada dua anak yang
menungguku dan harus kuhidupi.
Kembali rasa bingung merasukiku.
Selama ini aku tahu beres dan tak
pernah bekerja. Semua dilakukan
suamiku. Berapa besar
pendapatannya selama ini aku tak
pernah peduli, yang kupedulikan
hanya jumlah rupiah yang ia transfer
ke rekeningku untuk kupakai untuk
keperluan pribadi dan setiap bulan
uang itu hampir tak pernah bersisa.
Dari kantor tempatnya bekerja, aku
memperoleh gaji terakhir beserta
kompensasi bonusnya. Ketika
melihatnya aku terdiam tak
menyangka, ternyata seluruh gajinya
ditransfer ke rekeningku selama ini.
Padahal aku tak pernah sedikitpun
menggunakan untuk keperluan rumah
tangga. Entah darimana ia
memperoleh uang lain untuk
memenuhi kebutuhan rumah tangga
karena aku tak pernah bertanya
sekalipun soal itu.Yang aku tahu
sekarang aku harus bekerja atau
anak-anakku takkan bisa hidup
karena jumlah gaji terakhir dan
kompensasi bonusnya takkan cukup
untuk menghidupi kami bertiga. Tapi
bekerja di mana? Aku hampir tak
pernah punya pengalaman sama
sekali. Semuanya selalu diatur oleh
dia.
Kebingunganku terjawab beberapa
waktu kemudian. Ayahku datang
bersama seorang notaris. Ia
membawa banyak sekali dokumen.
Lalu notaris memberikan sebuah
surat. Surat pernyataan suami bahwa
ia mewariskan seluruh kekayaannya
padaku dan anak-anak, ia menyertai
ibunya dalam surat tersebut tapi
yang membuatku tak mampu berkata
apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu
terlebih dahulu, sayang. maaf karena
harus membuatmu bertanggung
jawab mengurus segalanya sendiri.
Maaf karena aku tak bisa memberimu
cinta dan kasih sayang lagi. Allah
memberiku waktu yang terlalu singkat
karena mencintaimu dan anak-anak
adalah hal terbaik yang pernah
kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin
mendampingi sayang selamanya.
Tetapi aku tak mau kalian kehilangan
kasih sayangku begitu saja. Selama
ini aku telah menabung sedikit demi
sedikit untuk kehidupan kalian nanti.
Aku tak ingin sayang susah setelah
aku pergi. Tak banyak yang bisa
kuberikan tetapi aku berharap sayang
bisa memanfaatkannya untuk
membesarkan dan mendidik anak-
anak. Lakukan yang terbaik untuk
mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang
manja. Lakukan banyak hal untuk
membuat hidupmu yang terbuang
percuma selama ini. Aku memberi
kebebasan padamu untuk
mewujudkan mimpi-mimpi yang tak
sempat kau lakukan selama ini.
Maafkan kalau aku menyusahkanmu
dan semoga Tuhan memberimu jodoh
yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku.
Maafkan karena ayah tak bisa
mendampingimu. Jadilah istri yang
baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria
pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah.
Jangan jadi anak yang bandel lagi
dan selalu ingat dimanapun kalian
berada, ayah akan disana melihatnya.
Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada
gambar kartun dengan kacamata yang
diberi lidah menjulur khas suamiku
kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama
ini suamiku memiliki beberapa
asuransi dan tabungan deposito dari
hasil warisan ayah kandungnya.
Suamiku membuat beberapa usaha
dari hasil deposito tabungan tersebut
dan usaha tersebut cukup berhasil
meskipun dimanajerin oleh orang-
orang kepercayaannya. Aku hanya
bisa menangis terharu mengetahui
betapa besar cintanya pada kami,
sehingga ketika ajal menjemputnya ia
tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk
menikah lagi. Banyaknya lelaki yang
hadir tak mampu menghapus
sosoknya yang masih begitu hidup di
dalam hatiku. Hari demi hari hanya
kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika
orangtuaku dan mertuaku pergi satu
persatu meninggalkanku selaman-
lamanya, tak satupun meninggalkan
kesedihan sedalam kesedihanku saat
suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia
duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi
putriku menikahi seorang pemuda
dari tanah seberang. Putri kami
bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana
nanti setelah menjadi istri, soalnya
Farah kan ga bisa masak, ga bisa
nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata
“Cinta sayang, cintailah suamimu,
cintailah pilihan hatimu, cintailah
apa yang ia miliki dan kau akan
mendapatkan segalanya. Karena
cinta, kau akan belajar
menyenangkan hatinya, akan belajar
menerima kekurangannya, akan
belajar bahwa sebesar apapun
persoalan, kalian akan
menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu
untuk ayah? Cinta itukah yang
membuat ibu tetap setia pada ayah
sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku.
Cintailah suamimu seperti ayah
mencintai ibu dulu, seperti ayah
mencintai kalian berdua. Ibu setia
pada ayah karena cinta ayah yang
begitu besar pada ibu dan kalian
berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena
tak sempat menunjukkan cintaku
pada suamiku. Aku menghabiskan
sepuluh tahun untuk membencinya,
tetapi menghabiskan hampir
sepanjang sisa hidupku untuk
mencintainya. Aku bebas darinya
karena kematian, tapi aku tak pernah
bisa bebas dari cintanya yang begitu
tulus.
kubisikkan dalam hatiku hampir
sepanjang kebersamaan kami.
Meskipun menikahinya, aku tak
pernah benar-benar menyerahkan
hatiku padanya. Menikah karena
paksaan orangtua, membuatku
membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak
pernah menunjukkan sikap benciku.
Meskipun membencinya, setiap hari
aku melayaninya sebagaimana tugas
istri. Aku terpaksa melakukan
semuanya karena aku tak punya
pegangan lain. Beberapa kali muncul
keinginan meninggalkannya tapi aku
tak punya kemampuan finansial dan
dukungan siapapun. Kedua
orangtuaku sangat menyayangi
suamiku karena menurut mereka,
suamiku adalah sosok suami
sempurna untuk putri satu-satunya
mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri
yang teramat manja. Kulakukan
segala hal sesuka hatiku. Suamiku
juga memanjakanku sedemikian rupa.
Aku tak pernah benar-benar
menjalani tugasku sebagai seorang
istri. Aku selalu bergantung padanya
karena aku menganggap hal itu
sudah seharusnya setelah apa yang ia
lakukan padaku. Aku telah
menyerahkan hidupku padanya
sehingga tugasnyalah membuatku
bahagia dengan menuruti semua
keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak
ada seorangpun yang berani
melawan. Jika ada sedikit saja
masalah, aku selalu menyalahkan
suamiku. Aku tak suka handuknya
yang basah yang diletakkan di tempat
tidur, aku sebal melihat ia
meletakkan sendok sisa mengaduk
susu di atas meja dan meninggalkan
bekas lengket, aku benci ketika ia
memakai komputerku meskipun hanya
untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Aku marah kalau ia menggantung
bajunya di kapstock bajuku, aku juga
marah kalau ia memakai pasta gigi
tanpa memencetnya dengan rapi, aku
marah kalau ia menghubungiku
hingga berkali-kali ketika aku sedang
bersenang-senang dengan teman-
temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak
punya anak. Meskipun tidak bekerja,
tapi aku tak mau mengurus anak.
Awalnya dia mendukung dan akupun
ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia
menyembunyikan keinginannya begitu
dalam sampai suatu hari aku lupa
minum pil KB dan meskipun ia tahu
ia membiarkannya. Akupun hamil dan
baru menyadarinya setelah lebih dari
empat bulan, dokterpun menolak
menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar
padanya. Kemarahan semakin
bertambah ketika aku mengandung
sepasang anak kembar dan harus
mengalami kelahiran yang sulit. Aku
memaksanya melakukan tindakan
vasektomi agar aku tidak hamil lagi.
Dengan patuh ia melakukan semua
keinginanku karena aku mengancam
akan meninggalkannya bersama
kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak
terasa berulang tahun yang ke-
delapan. Seperti pagi-pagi
sebelumnya, aku bangun paling
akhir. Suami dan anak-anak sudah
menungguku di meja makan. Seperti
biasa, dialah yang menyediakan
sarapan pagi dan mengantar anak-
anak ke sekolah. Hari itu, ia
mengingatkan kalau hari itu ada
peringatan ulang tahun ibuku. Aku
hanya menjawab dengan anggukan
tanpa mempedulikan kata-katanya
yang mengingatkan peristiwa tahun
sebelumnya, saat itu aku memilih ke
mal dan tidak hadir di acara ibu.
Yaah, karena merasa terjebak dengan
perkawinanku, aku juga membenci
kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku
mencium pipiku saja dan diikuti
anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga
memelukku sehingga anak-anak
menggoda ayahnya dengan ribut. Aku
berusaha mengelak dan melepaskan
pelukannya. Meskipun akhirnya ikut
tersenyum bersama anak-anak. Ia
kembali mencium hingga beberapa
kali di depan pintu, seakan-akan
berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun
memutuskan untuk ke salon.
Menghabiskan waktu ke salon adalah
hobiku. Aku tiba di salon
langgananku beberapa jam kemudian.
Di salon aku bertemu salah satu
temanku sekaligus orang yang tidak
kusukai. Kami mengobrol dengan
asyik termasuk saling memamerkan
kegiatan kami. Tiba waktunya aku
harus membayar tagihan salon,
namun betapa terkejutnya aku ketika
menyadari bahwa dompetku
tertinggal di rumah. Meskipun
merogoh tasku hingga bagian
terdalam aku tak menemukannya di
dalam tas. Sambil berusaha
mengingat-ingat apa yang terjadi
hingga dompetku tak bisa kutemukan
aku menelepon suamiku dan
bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan
meminta uang jajan dan aku tak
punya uang kecil maka kuambil dari
dompetmu. Aku lupa menaruhnya
kembali ke tasmu, kalau tidak salah
aku letakkan di atas meja kerjaku.”
Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya
dengan kasar. Kututup telepon tanpa
menunggunya selesai bicara. Tak
lama kemudian, handphoneku
kembali berbunyi dan meski masih
kesal, akupun mengangkatnya dengan
setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku
akan ambil dompet dan
mengantarnya padamu. Sayang
sekarang ada dimana?” tanya suamiku
cepat , kuatir aku menutup telepon
kembali. Aku menyebut nama salonku
dan tanpa menunggu jawabannya
lagi, aku kembali menutup telepon.
Aku berbicara dengan kasir dan
mengatakan bahwa suamiku akan
datang membayarkan tagihanku. Si
empunya Salon yang sahabatku
sebenarnya sudah membolehkanku
pergi dan mengatakan aku bisa
membayarnya nanti kalau aku
kembali lagi. Tapi rasa malu karena
“musuh”ku juga ikut mendengarku
ketinggalan dompet membuatku
gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar
dan berharap mobil suamiku segera
sampai. Menit berlalu menjadi jam,
aku semakin tidak sabar sehingga
mulai menghubungi handphone
suamiku. Tak ada jawaban meskipun
sudah berkali-kali kutelepon. Padahal
biasanya hanya dua kali berdering
teleponku sudah diangkatnya. Aku
mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa
kali mencoba. Ketika suara
bentakanku belum lagi keluar,
terdengar suara asing menjawab
telepon suamiku. Aku terdiam
beberapa saat sebelum suara lelaki
asing itu memperkenalkan diri,
“selamat siang, ibu. Apakah ibu istri
dari bapak armandi?” kujawab
pertanyaan itu segera. Lelaki asing
itu ternyata seorang polisi, ia
memberitahu bahwa suamiku
mengalami kecelakaan dan saat ini ia
sedang dibawa ke rumah sakit
kepolisian. Saat itu aku hanya
terdiam dan hanya menjawab terima
kasih. Ketika telepon ditutup, aku
berjongkok dengan bingung.
Tanganku menggenggam erat
handphone yang kupegang dan
beberapa pegawai salon mendekatiku
dengan sigap bertanya ada apa
hingga wajahku menjadi pucat
seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku
sampai di rumah sakit. Entah
bagaimana juga tahu-tahu seluruh
keluarga hadir di sana menyusulku.
Aku yang hanya diam seribu bahasa
menunggu suamiku di depan ruang
gawat darurat. Aku tak tahu harus
melakukan apa karena selama ini
dialah yang melakukan segalanya
untukku. Ketika akhirnya setelah
menunggu beberapa jam, tepat ketika
kumandang adzan maghrib terdengar
seorang dokter keluar dan
menyampaikan berita itu. Suamiku
telah tiada. Ia pergi bukan karena
kecelakaan itu sendiri, serangan
stroke-lah yang menyebabkan
kematiannya. Selesai mendengar
kenyataan itu, aku malah sibuk
menguatkan kedua orangtuaku dan
orangtuanya yang shock. Sama sekali
tak ada airmata setetespun keluar di
kedua mataku. Aku sibuk
menenangkan ayah ibu dan
mertuaku. Anak-anak yang terpukul
memelukku dengan erat tetapi
kesedihan mereka sama sekali tak
mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan
aku duduk di hadapannya, aku
termangu menatap wajah itu.
Kusadari baru kali inilah aku benar-
benar menatap wajahnya yang
tampak tertidur pulas. Kudekati
wajahnya dan kupandangi dengan
seksama. Saat itulah dadaku menjadi
sesak teringat apa yang telah ia
berikan padaku selama sepuluh
tahun kebersamaan kami. Kusentuh
perlahan wajahnya yang telah dingin
dan kusadari inilah kali pertama kali
aku menyentuh wajahnya yang dulu
selalu dihiasi senyum hangat.
Airmata merebak dimataku,
mengaburkan pandanganku. Aku
terkesiap berusaha mengusap agar
airmata tak menghalangi tatapan
terakhirku padanya, aku ingin
mengingat semua bagian wajahnya
agar kenangan manis tentang
suamiku tak berakhir begitu saja.
Tapi bukannya berhenti, airmataku
semakin deras membanjiri kedua
pipiku. Peringatan dari imam mesjid
yang mengatur prosesi pemakaman
tidak mampu membuatku berhenti
menangis. Aku berusaha menahannya,
tapi dadaku sesak mengingat apa
yang telah kuperbuat padanya
terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah
memperhatikan kesehatannya. Aku
hampir tak pernah mengatur
makannya. Padahal ia selalu
mengatur apa yang kumakan. Ia
memperhatikan vitamin dan obat
yang harus kukonsumsi terutama
ketika mengandung dan setelah
melahirkan. Ia tak pernah absen
mengingatkanku makan teratur,
bahkan terkadang menyuapiku kalau
aku sedang malas makan. Aku tak
pernah tahu apa yang ia makan
karena aku tak pernah bertanya.
Bahkan aku tak tahu apa yang ia
sukai dan tidak disukai. Hampir
seluruh keluarga tahu bahwa suamiku
adalah penggemar mie instant dan
kopi kental. Dadaku sesak
mendengarnya, karena aku tahu ia
mungkin terpaksa makan mie instant
karena aku hampir tak pernah
memasak untuknya. Aku hanya
memasak untuk anak-anak dan diriku
sendiri. Aku tak perduli dia sudah
makan atau belum ketika pulang
kerja. Ia bisa makan masakanku
hanya kalau bersisa. Iapun pulang
larut malam setiap hari karena dari
kantor cukup jauh dari rumah. Aku
tak pernah mau menanggapi
permintaannya untuk pindah lebih
dekat ke kantornya karena tak mau
jauh-jauh dari tempat tinggal teman-
temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu
menahan diri lagi. Aku pingsan ketika
melihat tubuhnya hilang bersamaan
onggokan tanah yang menimbun. Aku
tak tahu apapun sampai terbangun
di tempat tidur besarku. Aku
terbangun dengan rasa sesal
memenuhi rongga dadaku. Keluarga
besarku membujukku dengan sia-sia
karena mereka tak pernah tahu
mengapa aku begitu terluka
kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah
kepergiannya bukanlah kebebasan
seperti yang selama ini kuinginkan
tetapi aku malah terjebak di dalam
keinginan untuk bersamanya. Di hari-
hari awal kepergiannya, aku duduk
termangu memandangi piring kosong.
Ayah, Ibu dan ibu mertuaku
membujukku makan. Tetapi yang
kuingat hanyalah saat suamiku
membujukku makan kalau aku sedang
mengambek dulu. Ketika aku lupa
membawa handuk saat mandi, aku
berteriak memanggilnya seperti biasa
dan ketika malah ibuku yang datang,
aku berjongkok menangis di dalam
kamar mandi berharap ia yang
datang. Kebiasaanku yang
meneleponnya setiap kali aku tidak
bisa melakukan sesuatu di rumah,
membuat teman kerjanya
kebingungan menjawab teleponku.
Setiap malam aku menunggunya di
kamar tidur dan berharap esok pagi
aku terbangun dengan sosoknya di
sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur
mendengar suara dengkurannya, tapi
sekarang aku bahkan sering
terbangun karena rindu
mendengarnya kembali. Dulu aku
kesal karena ia sering berantakan di
kamar tidur kami, tetapi kini aku
merasa kamar tidur kami terasa
kosong dan hampa. Dulu aku begitu
kesal jika ia melakukan pekerjaan dan
meninggalkannya di laptopku tanpa
me-log out, sekarang aku
memandangi komputer, mengusap
tuts-tutsnya berharap bekas jari-
jarinya masih tertinggal di sana. Dulu
aku paling tidak suka ia membuat
kopi tanpa alas piring di meja,
sekarang bekasnya yang tersisa di
sarapan pagi terakhirnyapun tidak
mau kuhapus. Remote televisi yang
biasa disembunyikannya, sekarang
dengan mudah kutemukan meski aku
berharap bisa mengganti
kehilangannya dengan kehilangan
remote. Semua kebodohan itu
kulakukan karena aku baru menyadari
bahwa dia mencintaiku dan aku
sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri,
aku marah karena semua kelihatan
normal meskipun ia sudah tidak ada.
Aku marah karena baju-bajunya
masih di sana meninggalkan baunya
yang membuatku rindu. Aku marah
karena tak bisa menghentikan semua
penyesalanku. Aku marah karena tak
ada lagi yang membujukku agar
tenang, tak ada lagi yang
mengingatkanku sholat meskipun kini
kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat
karena aku ingin meminta maaf,
meminta maaf pada Allah karena
menyia-nyiakan suami yang
dianugerahi padaku, meminta ampun
karena telah menjadi istri yang tidak
baik pada suami yang begitu
sempurna. Sholatlah yang mampu
menghapus dukaku sedikit demi
sedikit. Cinta Allah padaku
ditunjukkannya dengan begitu banyak
perhatian dari keluarga untukku dan
anak-anak. Teman-temanku yang
selama ini kubela-belain, hampir tak
pernah menunjukkan batang hidung
mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah
kematiannya, keluarga
mengingatkanku untuk bangkit dari
keterpurukan. Ada dua anak yang
menungguku dan harus kuhidupi.
Kembali rasa bingung merasukiku.
Selama ini aku tahu beres dan tak
pernah bekerja. Semua dilakukan
suamiku. Berapa besar
pendapatannya selama ini aku tak
pernah peduli, yang kupedulikan
hanya jumlah rupiah yang ia transfer
ke rekeningku untuk kupakai untuk
keperluan pribadi dan setiap bulan
uang itu hampir tak pernah bersisa.
Dari kantor tempatnya bekerja, aku
memperoleh gaji terakhir beserta
kompensasi bonusnya. Ketika
melihatnya aku terdiam tak
menyangka, ternyata seluruh gajinya
ditransfer ke rekeningku selama ini.
Padahal aku tak pernah sedikitpun
menggunakan untuk keperluan rumah
tangga. Entah darimana ia
memperoleh uang lain untuk
memenuhi kebutuhan rumah tangga
karena aku tak pernah bertanya
sekalipun soal itu.Yang aku tahu
sekarang aku harus bekerja atau
anak-anakku takkan bisa hidup
karena jumlah gaji terakhir dan
kompensasi bonusnya takkan cukup
untuk menghidupi kami bertiga. Tapi
bekerja di mana? Aku hampir tak
pernah punya pengalaman sama
sekali. Semuanya selalu diatur oleh
dia.
Kebingunganku terjawab beberapa
waktu kemudian. Ayahku datang
bersama seorang notaris. Ia
membawa banyak sekali dokumen.
Lalu notaris memberikan sebuah
surat. Surat pernyataan suami bahwa
ia mewariskan seluruh kekayaannya
padaku dan anak-anak, ia menyertai
ibunya dalam surat tersebut tapi
yang membuatku tak mampu berkata
apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu
terlebih dahulu, sayang. maaf karena
harus membuatmu bertanggung
jawab mengurus segalanya sendiri.
Maaf karena aku tak bisa memberimu
cinta dan kasih sayang lagi. Allah
memberiku waktu yang terlalu singkat
karena mencintaimu dan anak-anak
adalah hal terbaik yang pernah
kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin
mendampingi sayang selamanya.
Tetapi aku tak mau kalian kehilangan
kasih sayangku begitu saja. Selama
ini aku telah menabung sedikit demi
sedikit untuk kehidupan kalian nanti.
Aku tak ingin sayang susah setelah
aku pergi. Tak banyak yang bisa
kuberikan tetapi aku berharap sayang
bisa memanfaatkannya untuk
membesarkan dan mendidik anak-
anak. Lakukan yang terbaik untuk
mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang
manja. Lakukan banyak hal untuk
membuat hidupmu yang terbuang
percuma selama ini. Aku memberi
kebebasan padamu untuk
mewujudkan mimpi-mimpi yang tak
sempat kau lakukan selama ini.
Maafkan kalau aku menyusahkanmu
dan semoga Tuhan memberimu jodoh
yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku.
Maafkan karena ayah tak bisa
mendampingimu. Jadilah istri yang
baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria
pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah.
Jangan jadi anak yang bandel lagi
dan selalu ingat dimanapun kalian
berada, ayah akan disana melihatnya.
Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada
gambar kartun dengan kacamata yang
diberi lidah menjulur khas suamiku
kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama
ini suamiku memiliki beberapa
asuransi dan tabungan deposito dari
hasil warisan ayah kandungnya.
Suamiku membuat beberapa usaha
dari hasil deposito tabungan tersebut
dan usaha tersebut cukup berhasil
meskipun dimanajerin oleh orang-
orang kepercayaannya. Aku hanya
bisa menangis terharu mengetahui
betapa besar cintanya pada kami,
sehingga ketika ajal menjemputnya ia
tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk
menikah lagi. Banyaknya lelaki yang
hadir tak mampu menghapus
sosoknya yang masih begitu hidup di
dalam hatiku. Hari demi hari hanya
kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika
orangtuaku dan mertuaku pergi satu
persatu meninggalkanku selaman-
lamanya, tak satupun meninggalkan
kesedihan sedalam kesedihanku saat
suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia
duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi
putriku menikahi seorang pemuda
dari tanah seberang. Putri kami
bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana
nanti setelah menjadi istri, soalnya
Farah kan ga bisa masak, ga bisa
nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata
“Cinta sayang, cintailah suamimu,
cintailah pilihan hatimu, cintailah
apa yang ia miliki dan kau akan
mendapatkan segalanya. Karena
cinta, kau akan belajar
menyenangkan hatinya, akan belajar
menerima kekurangannya, akan
belajar bahwa sebesar apapun
persoalan, kalian akan
menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu
untuk ayah? Cinta itukah yang
membuat ibu tetap setia pada ayah
sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku.
Cintailah suamimu seperti ayah
mencintai ibu dulu, seperti ayah
mencintai kalian berdua. Ibu setia
pada ayah karena cinta ayah yang
begitu besar pada ibu dan kalian
berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena
tak sempat menunjukkan cintaku
pada suamiku. Aku menghabiskan
sepuluh tahun untuk membencinya,
tetapi menghabiskan hampir
sepanjang sisa hidupku untuk
mencintainya. Aku bebas darinya
karena kematian, tapi aku tak pernah
bisa bebas dari cintanya yang begitu
tulus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar