Selasa, 04 Oktober 2016

PENYESALAN SEORANG ISTRI

Aku membencinya, itulah yang selalu
kubisikkan dalam hatiku hampir
sepanjang kebersamaan kami.
Meskipun menikahinya, aku tak
pernah benar-benar menyerahkan
hatiku padanya. Menikah karena
paksaan orangtua, membuatku
membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak
pernah menunjukkan sikap benciku.
Meskipun membencinya, setiap hari
aku melayaninya sebagaimana tugas
istri. Aku terpaksa melakukan
semuanya karena aku tak punya
pegangan lain. Beberapa kali muncul
keinginan meninggalkannya tapi aku
tak punya kemampuan finansial dan
dukungan siapapun. Kedua
orangtuaku sangat menyayangi
suamiku karena menurut mereka,
suamiku adalah sosok suami
sempurna untuk putri satu-satunya
mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri
yang teramat manja. Kulakukan
segala hal sesuka hatiku. Suamiku
juga memanjakanku sedemikian rupa.
Aku tak pernah benar-benar
menjalani tugasku sebagai seorang
istri. Aku selalu bergantung padanya
karena aku menganggap hal itu
sudah seharusnya setelah apa yang ia
lakukan padaku. Aku telah
menyerahkan hidupku padanya
sehingga tugasnyalah membuatku
bahagia dengan menuruti semua
keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak
ada seorangpun yang berani
melawan. Jika ada sedikit saja
masalah, aku selalu menyalahkan
suamiku. Aku tak suka handuknya
yang basah yang diletakkan di tempat
tidur, aku sebal melihat ia
meletakkan sendok sisa mengaduk
susu di atas meja dan meninggalkan
bekas lengket, aku benci ketika ia
memakai komputerku meskipun hanya
untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Aku marah kalau ia menggantung
bajunya di kapstock bajuku, aku juga
marah kalau ia memakai pasta gigi
tanpa memencetnya dengan rapi, aku
marah kalau ia menghubungiku
hingga berkali-kali ketika aku sedang
bersenang-senang dengan teman-
temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak
punya anak. Meskipun tidak bekerja,
tapi aku tak mau mengurus anak.
Awalnya dia mendukung dan akupun
ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia
menyembunyikan keinginannya begitu
dalam sampai suatu hari aku lupa
minum pil KB dan meskipun ia tahu
ia membiarkannya. Akupun hamil dan
baru menyadarinya setelah lebih dari
empat bulan, dokterpun menolak
menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar
padanya. Kemarahan semakin
bertambah ketika aku mengandung
sepasang anak kembar dan harus
mengalami kelahiran yang sulit. Aku
memaksanya melakukan tindakan
vasektomi agar aku tidak hamil lagi.
Dengan patuh ia melakukan semua
keinginanku karena aku mengancam
akan meninggalkannya bersama
kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak
terasa berulang tahun yang ke-
delapan. Seperti pagi-pagi
sebelumnya, aku bangun paling
akhir. Suami dan anak-anak sudah
menungguku di meja makan. Seperti
biasa, dialah yang menyediakan
sarapan pagi dan mengantar anak-
anak ke sekolah. Hari itu, ia
mengingatkan kalau hari itu ada
peringatan ulang tahun ibuku. Aku
hanya menjawab dengan anggukan
tanpa mempedulikan kata-katanya
yang mengingatkan peristiwa tahun
sebelumnya, saat itu aku memilih ke
mal dan tidak hadir di acara ibu.
Yaah, karena merasa terjebak dengan
perkawinanku, aku juga membenci
kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku
mencium pipiku saja dan diikuti
anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga
memelukku sehingga anak-anak
menggoda ayahnya dengan ribut. Aku
berusaha mengelak dan melepaskan
pelukannya. Meskipun akhirnya ikut
tersenyum bersama anak-anak. Ia
kembali mencium hingga beberapa
kali di depan pintu, seakan-akan
berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun
memutuskan untuk ke salon.
Menghabiskan waktu ke salon adalah
hobiku. Aku tiba di salon
langgananku beberapa jam kemudian.
Di salon aku bertemu salah satu
temanku sekaligus orang yang tidak
kusukai. Kami mengobrol dengan
asyik termasuk saling memamerkan
kegiatan kami. Tiba waktunya aku
harus membayar tagihan salon,
namun betapa terkejutnya aku ketika
menyadari bahwa dompetku
tertinggal di rumah. Meskipun
merogoh tasku hingga bagian
terdalam aku tak menemukannya di
dalam tas. Sambil berusaha
mengingat-ingat apa yang terjadi
hingga dompetku tak bisa kutemukan
aku menelepon suamiku dan
bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan
meminta uang jajan dan aku tak
punya uang kecil maka kuambil dari
dompetmu. Aku lupa menaruhnya
kembali ke tasmu, kalau tidak salah
aku letakkan di atas meja kerjaku.”
Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya
dengan kasar. Kututup telepon tanpa
menunggunya selesai bicara. Tak
lama kemudian, handphoneku
kembali berbunyi dan meski masih
kesal, akupun mengangkatnya dengan
setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku
akan ambil dompet dan
mengantarnya padamu. Sayang
sekarang ada dimana?” tanya suamiku
cepat , kuatir aku menutup telepon
kembali. Aku menyebut nama salonku
dan tanpa menunggu jawabannya
lagi, aku kembali menutup telepon.
Aku berbicara dengan kasir dan
mengatakan bahwa suamiku akan
datang membayarkan tagihanku. Si
empunya Salon yang sahabatku
sebenarnya sudah membolehkanku
pergi dan mengatakan aku bisa
membayarnya nanti kalau aku
kembali lagi. Tapi rasa malu karena
“musuh”ku juga ikut mendengarku
ketinggalan dompet membuatku
gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar
dan berharap mobil suamiku segera
sampai. Menit berlalu menjadi jam,
aku semakin tidak sabar sehingga
mulai menghubungi handphone
suamiku. Tak ada jawaban meskipun
sudah berkali-kali kutelepon. Padahal
biasanya hanya dua kali berdering
teleponku sudah diangkatnya. Aku
mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa
kali mencoba. Ketika suara
bentakanku belum lagi keluar,
terdengar suara asing menjawab
telepon suamiku. Aku terdiam
beberapa saat sebelum suara lelaki
asing itu memperkenalkan diri,
“selamat siang, ibu. Apakah ibu istri
dari bapak armandi?” kujawab
pertanyaan itu segera. Lelaki asing
itu ternyata seorang polisi, ia
memberitahu bahwa suamiku
mengalami kecelakaan dan saat ini ia
sedang dibawa ke rumah sakit
kepolisian. Saat itu aku hanya
terdiam dan hanya menjawab terima
kasih. Ketika telepon ditutup, aku
berjongkok dengan bingung.
Tanganku menggenggam erat
handphone yang kupegang dan
beberapa pegawai salon mendekatiku
dengan sigap bertanya ada apa
hingga wajahku menjadi pucat
seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku
sampai di rumah sakit. Entah
bagaimana juga tahu-tahu seluruh
keluarga hadir di sana menyusulku.
Aku yang hanya diam seribu bahasa
menunggu suamiku di depan ruang
gawat darurat. Aku tak tahu harus
melakukan apa karena selama ini
dialah yang melakukan segalanya
untukku. Ketika akhirnya setelah
menunggu beberapa jam, tepat ketika
kumandang adzan maghrib terdengar
seorang dokter keluar dan
menyampaikan berita itu. Suamiku
telah tiada. Ia pergi bukan karena
kecelakaan itu sendiri, serangan
stroke-lah yang menyebabkan
kematiannya. Selesai mendengar
kenyataan itu, aku malah sibuk
menguatkan kedua orangtuaku dan
orangtuanya yang shock. Sama sekali
tak ada airmata setetespun keluar di
kedua mataku. Aku sibuk
menenangkan ayah ibu dan
mertuaku. Anak-anak yang terpukul
memelukku dengan erat tetapi
kesedihan mereka sama sekali tak
mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan
aku duduk di hadapannya, aku
termangu menatap wajah itu.
Kusadari baru kali inilah aku benar-
benar menatap wajahnya yang
tampak tertidur pulas. Kudekati
wajahnya dan kupandangi dengan
seksama. Saat itulah dadaku menjadi
sesak teringat apa yang telah ia
berikan padaku selama sepuluh
tahun kebersamaan kami. Kusentuh
perlahan wajahnya yang telah dingin
dan kusadari inilah kali pertama kali
aku menyentuh wajahnya yang dulu
selalu dihiasi senyum hangat.
Airmata merebak dimataku,
mengaburkan pandanganku. Aku
terkesiap berusaha mengusap agar
airmata tak menghalangi tatapan
terakhirku padanya, aku ingin
mengingat semua bagian wajahnya
agar kenangan manis tentang
suamiku tak berakhir begitu saja.
Tapi bukannya berhenti, airmataku
semakin deras membanjiri kedua
pipiku. Peringatan dari imam mesjid
yang mengatur prosesi pemakaman
tidak mampu membuatku berhenti
menangis. Aku berusaha menahannya,
tapi dadaku sesak mengingat apa
yang telah kuperbuat padanya
terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah
memperhatikan kesehatannya. Aku
hampir tak pernah mengatur
makannya. Padahal ia selalu
mengatur apa yang kumakan. Ia
memperhatikan vitamin dan obat
yang harus kukonsumsi terutama
ketika mengandung dan setelah
melahirkan. Ia tak pernah absen
mengingatkanku makan teratur,
bahkan terkadang menyuapiku kalau
aku sedang malas makan. Aku tak
pernah tahu apa yang ia makan
karena aku tak pernah bertanya.
Bahkan aku tak tahu apa yang ia
sukai dan tidak disukai. Hampir
seluruh keluarga tahu bahwa suamiku
adalah penggemar mie instant dan
kopi kental. Dadaku sesak
mendengarnya, karena aku tahu ia
mungkin terpaksa makan mie instant
karena aku hampir tak pernah
memasak untuknya. Aku hanya
memasak untuk anak-anak dan diriku
sendiri. Aku tak perduli dia sudah
makan atau belum ketika pulang
kerja. Ia bisa makan masakanku
hanya kalau bersisa. Iapun pulang
larut malam setiap hari karena dari
kantor cukup jauh dari rumah. Aku
tak pernah mau menanggapi
permintaannya untuk pindah lebih
dekat ke kantornya karena tak mau
jauh-jauh dari tempat tinggal teman-
temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu
menahan diri lagi. Aku pingsan ketika
melihat tubuhnya hilang bersamaan
onggokan tanah yang menimbun. Aku
tak tahu apapun sampai terbangun
di tempat tidur besarku. Aku
terbangun dengan rasa sesal
memenuhi rongga dadaku. Keluarga
besarku membujukku dengan sia-sia
karena mereka tak pernah tahu
mengapa aku begitu terluka
kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah
kepergiannya bukanlah kebebasan
seperti yang selama ini kuinginkan
tetapi aku malah terjebak di dalam
keinginan untuk bersamanya. Di hari-
hari awal kepergiannya, aku duduk
termangu memandangi piring kosong.
Ayah, Ibu dan ibu mertuaku
membujukku makan. Tetapi yang
kuingat hanyalah saat suamiku
membujukku makan kalau aku sedang
mengambek dulu. Ketika aku lupa
membawa handuk saat mandi, aku
berteriak memanggilnya seperti biasa
dan ketika malah ibuku yang datang,
aku berjongkok menangis di dalam
kamar mandi berharap ia yang
datang. Kebiasaanku yang
meneleponnya setiap kali aku tidak
bisa melakukan sesuatu di rumah,
membuat teman kerjanya
kebingungan menjawab teleponku.
Setiap malam aku menunggunya di
kamar tidur dan berharap esok pagi
aku terbangun dengan sosoknya di
sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur
mendengar suara dengkurannya, tapi
sekarang aku bahkan sering
terbangun karena rindu
mendengarnya kembali. Dulu aku
kesal karena ia sering berantakan di
kamar tidur kami, tetapi kini aku
merasa kamar tidur kami terasa
kosong dan hampa. Dulu aku begitu
kesal jika ia melakukan pekerjaan dan
meninggalkannya di laptopku tanpa
me-log out, sekarang aku
memandangi komputer, mengusap
tuts-tutsnya berharap bekas jari-
jarinya masih tertinggal di sana. Dulu
aku paling tidak suka ia membuat
kopi tanpa alas piring di meja,
sekarang bekasnya yang tersisa di
sarapan pagi terakhirnyapun tidak
mau kuhapus. Remote televisi yang
biasa disembunyikannya, sekarang
dengan mudah kutemukan meski aku
berharap bisa mengganti
kehilangannya dengan kehilangan
remote. Semua kebodohan itu
kulakukan karena aku baru menyadari
bahwa dia mencintaiku dan aku
sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri,
aku marah karena semua kelihatan
normal meskipun ia sudah tidak ada.
Aku marah karena baju-bajunya
masih di sana meninggalkan baunya
yang membuatku rindu. Aku marah
karena tak bisa menghentikan semua
penyesalanku. Aku marah karena tak
ada lagi yang membujukku agar
tenang, tak ada lagi yang
mengingatkanku sholat meskipun kini
kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat
karena aku ingin meminta maaf,
meminta maaf pada Allah karena
menyia-nyiakan suami yang
dianugerahi padaku, meminta ampun
karena telah menjadi istri yang tidak
baik pada suami yang begitu
sempurna. Sholatlah yang mampu
menghapus dukaku sedikit demi
sedikit. Cinta Allah padaku
ditunjukkannya dengan begitu banyak
perhatian dari keluarga untukku dan
anak-anak. Teman-temanku yang
selama ini kubela-belain, hampir tak
pernah menunjukkan batang hidung
mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah
kematiannya, keluarga
mengingatkanku untuk bangkit dari
keterpurukan. Ada dua anak yang
menungguku dan harus kuhidupi.
Kembali rasa bingung merasukiku.
Selama ini aku tahu beres dan tak
pernah bekerja. Semua dilakukan
suamiku. Berapa besar
pendapatannya selama ini aku tak
pernah peduli, yang kupedulikan
hanya jumlah rupiah yang ia transfer
ke rekeningku untuk kupakai untuk
keperluan pribadi dan setiap bulan
uang itu hampir tak pernah bersisa.
Dari kantor tempatnya bekerja, aku
memperoleh gaji terakhir beserta
kompensasi bonusnya. Ketika
melihatnya aku terdiam tak
menyangka, ternyata seluruh gajinya
ditransfer ke rekeningku selama ini.
Padahal aku tak pernah sedikitpun
menggunakan untuk keperluan rumah
tangga. Entah darimana ia
memperoleh uang lain untuk
memenuhi kebutuhan rumah tangga
karena aku tak pernah bertanya
sekalipun soal itu.Yang aku tahu
sekarang aku harus bekerja atau
anak-anakku takkan bisa hidup
karena jumlah gaji terakhir dan
kompensasi bonusnya takkan cukup
untuk menghidupi kami bertiga. Tapi
bekerja di mana? Aku hampir tak
pernah punya pengalaman sama
sekali. Semuanya selalu diatur oleh
dia.
Kebingunganku terjawab beberapa
waktu kemudian. Ayahku datang
bersama seorang notaris. Ia
membawa banyak sekali dokumen.
Lalu notaris memberikan sebuah
surat. Surat pernyataan suami bahwa
ia mewariskan seluruh kekayaannya
padaku dan anak-anak, ia menyertai
ibunya dalam surat tersebut tapi
yang membuatku tak mampu berkata
apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu
terlebih dahulu, sayang. maaf karena
harus membuatmu bertanggung
jawab mengurus segalanya sendiri.
Maaf karena aku tak bisa memberimu
cinta dan kasih sayang lagi. Allah
memberiku waktu yang terlalu singkat
karena mencintaimu dan anak-anak
adalah hal terbaik yang pernah
kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin
mendampingi sayang selamanya.
Tetapi aku tak mau kalian kehilangan
kasih sayangku begitu saja. Selama
ini aku telah menabung sedikit demi
sedikit untuk kehidupan kalian nanti.
Aku tak ingin sayang susah setelah
aku pergi. Tak banyak yang bisa
kuberikan tetapi aku berharap sayang
bisa memanfaatkannya untuk
membesarkan dan mendidik anak-
anak. Lakukan yang terbaik untuk
mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang
manja. Lakukan banyak hal untuk
membuat hidupmu yang terbuang
percuma selama ini. Aku memberi
kebebasan padamu untuk
mewujudkan mimpi-mimpi yang tak
sempat kau lakukan selama ini.
Maafkan kalau aku menyusahkanmu
dan semoga Tuhan memberimu jodoh
yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku.
Maafkan karena ayah tak bisa
mendampingimu. Jadilah istri yang
baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria
pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah.
Jangan jadi anak yang bandel lagi
dan selalu ingat dimanapun kalian
berada, ayah akan disana melihatnya.
Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada
gambar kartun dengan kacamata yang
diberi lidah menjulur khas suamiku
kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama
ini suamiku memiliki beberapa
asuransi dan tabungan deposito dari
hasil warisan ayah kandungnya.
Suamiku membuat beberapa usaha
dari hasil deposito tabungan tersebut
dan usaha tersebut cukup berhasil
meskipun dimanajerin oleh orang-
orang kepercayaannya. Aku hanya
bisa menangis terharu mengetahui
betapa besar cintanya pada kami,
sehingga ketika ajal menjemputnya ia
tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk
menikah lagi. Banyaknya lelaki yang
hadir tak mampu menghapus
sosoknya yang masih begitu hidup di
dalam hatiku. Hari demi hari hanya
kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika
orangtuaku dan mertuaku pergi satu
persatu meninggalkanku selaman-
lamanya, tak satupun meninggalkan
kesedihan sedalam kesedihanku saat
suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia
duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi
putriku menikahi seorang pemuda
dari tanah seberang. Putri kami
bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana
nanti setelah menjadi istri, soalnya
Farah kan ga bisa masak, ga bisa
nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata
“Cinta sayang, cintailah suamimu,
cintailah pilihan hatimu, cintailah
apa yang ia miliki dan kau akan
mendapatkan segalanya. Karena
cinta, kau akan belajar
menyenangkan hatinya, akan belajar
menerima kekurangannya, akan
belajar bahwa sebesar apapun
persoalan, kalian akan
menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu
untuk ayah? Cinta itukah yang
membuat ibu tetap setia pada ayah
sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku.
Cintailah suamimu seperti ayah
mencintai ibu dulu, seperti ayah
mencintai kalian berdua. Ibu setia
pada ayah karena cinta ayah yang
begitu besar pada ibu dan kalian
berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena
tak sempat menunjukkan cintaku
pada suamiku. Aku menghabiskan
sepuluh tahun untuk membencinya,
tetapi menghabiskan hampir
sepanjang sisa hidupku untuk
mencintainya. Aku bebas darinya
karena kematian, tapi aku tak pernah
bisa bebas dari cintanya yang begitu
tulus.

CERITA CINTA SEJATI

Baca Perlahan DAN Dengan Hati ;)
Ada seorang cowok dan cewek sedang
duduk berdua pada sebuah malam di
sebuah Taman..
Cowok : “ aku merasa, kita berdua
tertinggal di dunia ini ”
Cewek : “ mungkin, karna semua
temenku dah punya pasangan
masing"hanya tinggal kita berdua di
sini, tertinggal tanpa kita memiliki orang
spesial ”
Cowok : “ yups, aku gak tau apa yang
harus ku lakukan ”
Cewek : “ Aku tau!!! Kita main game
yuuk ”
Cowok : “ Game apa ? ”
Cewek : “ aku akan jadi kekasihmu dan
kamu jadi kekasihku untuk waktu
30hari, ”
Cowok : “ ide bagus, tapi aku gak tau.
Apa yang harus aku lakuin.. ??? ”
HARI 1
» Mereka pergi nonton ke Bioskop,
Pada sebuah film Romantis, hati mereka
tersentuh.
HARI 4
» Mereka pergi ke sebuah pantai, dan
menikmati suasana indah bersama.
HARI 12
» Mereka pergi ke tempat Circus dan
masuk ke dalam rumah hantu. Karna
ketakutan, cewek itu megang tangan
cowok tapi itu bukan cowoknya dan
mereka berdua
tertawa.
HARI 15
» Tak sengaja mereka bertemu dengan
sebuah peramal, lalu mereka bertanya
tentang masa depanya.
Peramal menjawab :
“ Jangan kau habiskan waktu hidup
kalian, jalanilah hidup kalian bahagia
bersama ”
HARI 20
» Cewek itu mengajak cowoknya pergi
ke pegunungan, di saat malam tiba
mereka duduk berdua dan tiba"ada
bintang jatuh, lalu cewek itu
memejamkan mata dan ber Do'a..
HARI 28
» Mereka duduk dalam sebuah bus,
Karna jalan yang rusak terjadilah
guncangan dan tanpa di sengaja cewek
itu memberi ciuman pertamanya pada
cowoknya.
HARI 29
» Pada pukul 11.30pm mereka pergi
kembali ke tempat di mana mereka
membuat perjanjian untuk bermain
permainan ini.
Cowok : “ aku lelah ... Apa kamu pingin
minum sesuatu ? Nanti aku belikan.. ”
Cewek : “ Orange juice aja deh ”
Cowok : “ tunggu bentar ya, ”
20menit kemudian... seseorang
menghampiri cewek itu dan berkata :
Orang : “ apa cowok yang barusan
turun jalan itu temenmu ? ”
Cewek : “ iya,, ? Kenapa ?? ”
Orang : “ 10menit yang lalu telah
terjadi kecelakaan, seorang pengemudi
Truk dalam keadaan mabuk tidak
sengaja telah menyrempet teman anda,
keadaanya kritis.
Terpaksa langsung di larikan ke Rumah
Sakit

Pada pukul 11.57pm, Dokter keluar dari
ruang UGD dengan menenteng sehelai
kertas dan botol Orange juice dan
berkata :
Dokter : “ kami hanya menemukan
barang ini dan lipatan kertas pada saku
celana korban ”
Cewek itu kemudian membacanya, yang
berisikan :
“Beberapa hari tlah berlalu..
Aku merasa, kamu adalah gadis yang
lucu. Dan jujur aku suka padamu. Kamu
selalu tersenyum ceria meskipun kita
hanya bermain dalam permainan ini.
Sebelum permainan ini berakhir, aku
ingin kamu jadi kekasihku untuk
selamanya...I Love You..
Kemudian cewek itu berlari
menghampiri cowoknya yang sedang
dalam keadaan kritis
sambil menangis dan berkata :
"Aku tak ingin kau mati... Aku
mencintaimu, kamu ingat katika kita
melihat bintang jatuh ? Saat itu aku
berdo'a kita akan bersama selamanya
dan tidak akan pernah
mengakhiri permainan ini. Tolong
jangan tinggalkan aku.. !! Kamu gak
boleh ngelakuin ini padaku.. !!!"
Kemudian tepat pukul 12.00 pm, jantung
cowoknya kembali berdetak, Dan itu
adalah ke 30 HARI nya

Do'a seorang istri yg tersakiti

sesal ku tak berujung,,,saat ku tau hadi mantan suamiku kini telah tiada,walaupun dia telah menyakitiku dengan cara sedemikian rupa,tp dia tetap lelaki yg pernah ku cintai...
Hadi menikahiku 5 tahun yg lalu,karna himpitan ekonomi kamipun memutuskan agar menunda kehamilanku,bukan karna aku tak mau menjadi wanita yg sempurna,tp aku tak mau kalau nanti anaku lahi...r dia akn hidup serba pas-pasan,sering kami hanya makan sekali dalam sehari,karna berhemat,dengan menyisihkan sedikit uang untuk menabung,namun walaupun begitu aku tetap bersyukur,karna hadi sangat baik,dia rela bekerja apapun demi aku asalkan halal,itu ucapnya...
Tak terasa 3 tahun sudah kami menikah,walaupun hari2 kami lalui dengan hidup serba pas2an,namun kami tak pernah menyerah,mungkin ALLAH belum mempercayakn kami meminjam sebagian hartany,sampai pada suatu ketika pak.RT datang berkunjung ke rumah kami,kebetulan hadi tidak bekerja hari ini,,tak lama kemudian pak.rt menawarkn sebuah pekerjaan pada hadi sebagai sopir pribadi d jakarta,tanpa berpikir panjang suamiku meng-IYA kan nya,n aku pun turut senang,,,
pagi yang cerah,secerah hati suamiku yg 1 jam lg akn berangkat ke jakarta untuk memenuhi janjiny semalam,aku pun sempat berpesan,hati2 d sana ya mas,jangan kecewakan majikan mas,,iya de,jawab suamiku tenang,tak lama kami berbincang2 pak.RT datang,pertanda suamiku akn segera pergi,ada perasaan senang n juga sedih,berat rasanya melepas mas hadi yg selama 3 tahun ini tak pernah terpisah denganku,tp aku coba menepis rasa curiga ini,aku tak mau melihat suamiku sedih karna melihatku murung..
3 bulan berlalu,tak pernah ku dengar kabar tentang suamiku,sering ku bertanya pada pa.Rt tp beliau hanya menjawab mungkin hadi sibuk,n aku hanya bisa bersabar menantiny pulang,sore itu pak.rt memanggilku karna suamiku tlp,dia bilang de,mas belum bisa pulang,karna sangat sibuk,mas harap ade sbr menanti,mas gk bs sering tlp,karna mas gk bisa seenakny menggunakan tlp d rumah majikan mas,besok mas kirim uang untuk ade makan,n kalau bs ade beli hanphone ny...ucap mas hadi padaku yg nampak terburu2,aku hanya bs menjawab iya mas....
Aku tak membeli hp dngn harga mahal waktu itu,krn aku ingin menyimpan sedikit uang kiriman mas hadi,jam 9 malam hp ku berbunyi pertanda sms masuk,,jangan tlp atau sms mas dulu,mas sangat sibuk,,hany itulah isi sms mas hadi,hatiku mulai gelisah,ada prasangka buruk yg tiba2 hadir d pikiranku,tp segera ku tepis walaupun sakit rasany hati ini,krn sebelum ny mas hadi tak pernah seperti ini padaku..1 tahun berlalu,aku melalui hari2 ku sendiri,tnp ada kbr dr suamiku,bahkan tiap kali ku tlp hp ny tak pernah aktif,terpaksa uang tabungan yg ku simpan aku pakai sedikit demi sedikit n hampir habis,siang itu aku pulang dari warung ku lihat ada sebuah mobil jazz parkir d depan rumahku,n d teras rumah nampak seorang lelaki berdasi sedang berdiri sambil merokok,siapa dia pikirku,segera ku hampiri lelaki itu,assalamu'alaikum...n betapa terkejut ny aku,rasa percaya n tidak percaya kalau laki2 yg kini berhadapan denganku adalah mas hadi suamiku,ku cium tangan ny,tp dia hanya senyum ketus terhadapku,masuk mas pintaku,apa mas mau ade buatkan kopi,mas pasti cape,,tapi dng nada yg tinggi dia bilang,gak usah,aku sudah kenyang,,aku kemari hanya untuk mengantarkan ini padamu,sambil membanting sebuah map d meja.perlahan ku buka map itu,n jatung ku terasa berhenti,lidahku kelu,badanku lemas bahkan tetes air matapun tiba2 mengalir deras saat ku tau isi map itu,kenapa mas ingin ceraikan aku,apa salahku mas?jerit tangisku tiba2 pecah,salah mu karna selama hidup dengan mu aku tak pernah bahagia,aku selalu susah,n setelah jauh darimu aku bisa seperti ini,menjadi seorang direktur,n mempunyai istri yg lebih segala2ny darimu..jawabny,ku ambil selembaran itu lalu ku sobek,ku remas n ku buang,,dengan kemarahan hadipun pergi,tanpa peduli jerit tangisku,,1 minggu berlalu,aku hanya bs menangis tanpa bisa berontak,ku lihat d luar ada mobil berhenti,setelah keluar pengendaranya hatiku agak gembira,ternyata mas hadi pulang,mungkin dia akn menyesali perbuatan ny n meminta maaf padaku,ah ingin rasany aku segera menghampiri mas hadi n memelukny,aku pun segera berlari ke depan,,n tiba2 ada seorang permpuan setengah baya yg ikut keluar dari mobil,n menggandeng suamiku,hatiku remuk melebihi bom yg meledakan seisi kota,kenalkan ini mira calon istriku,ucap mas hadi padaku,merekapun masuk kedalam,aku mengikutiny dari belakang,mereka duduk d kursi tengah,n bodohny aku,aku malah diam saja,,y allah yg maha agung,mereka bercinta d depanku,suamiku yg selalu aku hormati n ku junjung tinggi tega menyakiti hatiku,padahal membunuh segala rasa yg ku simpan untuk ny selama 4 tahun ini,mereka berhubungan intim d depan mataku,bahkan aku d anggap patung d anggap manusia tak bernyawa,,15 menit berlalu,akhirny perbuatan bejat suami n perempuan itupun berakhir d depan mataku,,,salahmu sendiri,d cerai tak mau,apa sekarang masih tak mau juga setelah kau saksikan pertunjukan tadi ujar mira dengan lantang ny.suamikupun menyerahkan surat percerain itu kembali padaku,dengan sangat terpaksa ku tandatangani,,kuatka aku ya allah pintaku dalam hati setelah mereka berlalu dr rumahku,n kini aku menjadi seorang janda...6 bulan perceraian,tak pernah ku dengar kabar ny,n aku pun sudah tak ingin tau,karna kami sudah tak ada ikatan lg,akupun saat ini msh ingin sendiri,tiba2 saja pak.rt datang n memberitaukan kalau hadi kecelakaan n meninggal dunia,,,entah kenapa perasaan sedih tiba menyelimuti hatiku,tak ku sangka allah begitu cepat mangambilmu mas...semoga kau tenang d alam sana n d terima d sisinya..!amin.

Minggu, 02 Oktober 2016

“CERITA SEDIH ROMANTIS”

''Selamat ulang tahun sayang...!''
ujar seorang
pria pada pacarnya sambil memberikan kado
berupa kotak cincin yang terbuat dari kertas
berwarna PINK yang di hiasi dengan pita
warna MERAH serta sebuah amplop surat
yang menebarkan wangi parfum kesukaan si
cewek.
Setelah pacarnya pulang... Dengan hati
berbunga-bunga, ­ si cewek buru-buru lari
kedalam kamarnya dan membuka kotak
cincin itu. Tapi tak lama kemudian hatinya
kecewa.
Berharap itu adalah sebuah cincin
emas... Ternyata yang di dapatkannya
hanyalah sebuah cincin berbahan almunium
yang berukirkan gambar sebuah hati.
Dengan wajah lesu, si cewek kembali menutup kotak
cincin itu dan melemparkannya kebawah kasur berserta amplop berisikan surat tanpa
membacanya terlebih dahulu.
keesokan harinya.. Si cewek kembali mendapatkan
sebuah kado ulang tahun. Tapi kali ini dari teman pria nya berupa HP Black Berry yang
sudah lama diidam-idamkannya ­ .
Sejak saat itu, si cewek mulai dekat dengan teman pria nya yang telah memberikan hadiah hp di hari ulang tahunnya yang ke 17 tahun. Dan lama-kelamaan, akhirnya
terjalinlah sebuah hubungan erat layaknya orang berpacaran. Tentu saja setelah si cewek putus dengan pacar lamanya.
Satu bulan kemudian, Hubungan mereka semakin
lengket seperti susah untuk di pisahkan dengan orang yang tadinya hanyalah sebatas
teman pria nya saja.
Bahkan si cewek rela
memberikan apa yang dia miliki demi
menunjukkan besarnya cintanya pada pacar barunya.
Hingga suatu hari... Terjadilah pertengkaran
antara kedua pasangan kekasih ini karna sebuah hal kecil. Perlakuan pacar barunya
berubah drastis.
Tadinya sikap si cowok yang lembut, romantis dan penuh kasih sayang.
Kini telah berubah dengan sikap aslinya yang kasar, arogan dan suka main tangan. Tak jarang sebuah tamparan sering kali mendarat
di pipi si cewek di saat mereka sedang
bertengkar. Hingga akhirnya si cowok pun meninggalkannya ­ dengan cewek lain.
Tak di sangka... Kini si cewek hanya bisa menangis di dalam kamarnya. Alangkah menyesalnya dia setelah memberikan apa yang dimilikinya
pada cowok yang telah mengkhianati cintanya.
Di saat sedang menangis, si cewek tak sengaja melihat sebuah kotak cincin dan sebuah amplop di bawah tempat tidurnya.
Dia teringat kembali dengan mantan pacarnya yang dulu pernah ia tinggalkan karena pria lain. Di saat itulah ia penasaran dengan isi
surat yang ada di dalam amplop itu.
'' For my love Sebelumnya aku ucapkan selamat ulang tahun yang ke 17 untukmu cinta. Semoga kamu di berkahi rezeki dan kemudahan oleh
yang maha kuasa dan semakin dewasa dalam semua sikap. Maaf ya sayang.. Aku cuman bisa memberimu hadiah cincin seperti ini. Tapi
suatu saat aku akan berjanji memberikanmu
cincin emas sebagai tanda kemurnian cinta kita berdua dalam ikatan yang lebih resmi nanti. Doakan aku ya sayang,, agar aku di
terima kerja.. nanti gaji pertamaku, akan aku belikan cincin emas buatmu agar aku bisa
meminangmu. I Love You...!!!''
Hatinya pun
berguncang setelah membaca isi surat itu.
Si cewek langsung menangis setelah menyadari bahwa cowok yang pernah dia khianati ternyata sangat tulus mencintainya.
Detik itu juga si cewek langsung menelpon mantan pacarnya itu untuk meminta maaf karena telah mengkhianati cintanya.
Tapi setelah tersambung dan telepon pun di jawab,
si cewek langsung pingsan.
Ternyata yang
menjawab adalah ibu si cowok yang
mengabarkan anaknya sudah meninggal dunia akibat kecelakaan waktu dia berangkat
kerja.
Nasehat Buat Yang Baca:
Penyesalan selalu datang belakangan.
Tapi inti
dari cerita di atas dapat kita rasakan. Bahwa...
Ketulusan sebuah Cinta tidak dapat dinilai dari harta benda. Tapi nilailah cinta seseorang dari
hati dan keiklasan.
Mudah-mudahan cinta yang tulus akan dapat anda raih.

KEBAIKAN SUPIR ANGKOT

Angkot-angkot saling menyalip untuk berebut penumpang.
Namun ada pemandangan aneh, didepan angkot yang kami tumpangi ada seorang ibu dengan 3 orang anak remaja berdiri di tepi jalan.
Setiap ada angkot yang berhenti dihadapannya, dari jauh kami bisa melihat si ibu bicara kepada supir angkot, lalu angkot itu melaju kembali.
Kejadian ini terulang beberapa kali. Ketika angkot yang kami tumpangi berhenti, si ibu bertanya:
“Dik, lewat terminal bis ya?”, supir tentu menjawab “ya”.
Yang aneh si ibu tidak segera naik. Ia bilang “ Tapi saya dan ke 3 anak saya tidak punya ongkos.”
Sambil tersenyum, supir itu menjawab “Gak pa-pa bu, naik saja”, ketika si ibu tampak ragu2, supir mengulangi perkataannya
“ayo bu, naik saja, gak pa-pa ..”
Saya terpesona dengan kebaikan Supir angkot yang masih muda itu, di saat jam sibuk dan angkot lain saling berlomba untuk mencari penumpang, tapi si Supir muda ini merelakan 4 kursi penumpangnya untuk si ibu dan anak-anaknya.
Ketika sampai di terminal bis, 4 orang penumpang gratisan ini turun. Si Ibu mengucapkan terima kasih berulang2 kali kepada Supir atas kebaikan hatinya.
Di belakang ibu itu, seorang penumpang pria turun lalu membayar dengan uang Rp. 20 ribu.
Ketika supir hendak memberi kembalian (ongkos angkot hanya Rp.4 ribu) Pria ini bilang bahwa uang itu untuk ongkos dirinya serta 4 orang penumpang gratisan tadi.
“Terus jadi orang baik ya, Dik ” kata pria tersebut kepada sopir angkot muda itu...
Sore itu saya benar-benar dibuat kagum dengan kebaikan-kebaik­an kecil yang saya lihat.
Seorang Ibu miskin yg jujur, seorang Supir yang baik hati dan seorang penumpang yang budiman.
Mereka saling mendukung untuk kebaikan.
Andai separuh saja bangsa kita seperti ini, maka dunia akan takluk oleh kebaikan kita. Teruslah berbuat baik, sekecil apapun ketulusan yang kita perbuat tentunya sangat berarti untuk orang lain..!!!
Apa hikmah Cerita Ini :
Dalam Al-Qur’an Dijelaskan bahwa orang-orang yang berbuat kebaikan akan memperoleh pahala berupa kebaikan di dunia dan akhirat. Mengenai hal ini, Allah berfirman sebagai berikut: “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.s. az-Zumar: 10).
Orang-orang yang beriman tidak pernah mengejar dunia, yakni mereka tidak tamak terhadap harta dunia, kedudukan, atau kekuasaan. Sebagaimana yang dinyatakan Allah dalam sebuah ayat, mereka telah menjual diri dan harta mereka untuk memperoleh surga. Jual beli dan perdagangan tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan berjuang untuk agama. Di samping itu, mereka tetap sabar dan taat sekalipun mereka diuji dengan kelaparan atau kehilangan harta, dan mereka tidak pernah mengeluh.
Semoga Bermanfaat